Di zaman yang serba modern dengan banyak hal yang terkesan mudah dan praktis, terselip sebuah kegundahan dari seorang politikus kelas atas yang namanya tertulis di antara sederetan nama wakil rakyat yang berkuasa. Dengan gaya yang perfeksionis dan cara bicara yang berwibawa, dia dikenal sebagai seorang politikus yang cerdas.
Keahlian dalam bidangnya tak cukup membuatnya menjadi pandai dalam mengungkapkan kasih kepada orang lain. Keadaan itu diawali ketika kematian sang istri yang membuatnya menjelma menjadi seorang pria dewasa yang dingin dan sedikit kasar. Terlebih lagi, Tuhan mengkaruniainya seorang putri tunggal yang harus dirawatnya sendiri semenjak kepergian mendiang istrinya.
Sepuluh tahun terlewati, sang anak tumbuh menjadi gadis pintar, sederhana tapi tampak begitu simpatik. Namun, semua itu tak kunjung membuat sang politikus menaruh suatu kebanggaan layaknya seorang ayah terhadap anaknya. Kehidupan penuh kemewahan dan kehormatan ala pejabat kelas atas negeri ini rupanya telah membutakan hatinya. Kematian sang istri karena melahirkan anaknya dan kelumpuhan permanen pada kaki kiri sang anak yang dianggapnya sebuah aib telah menimbulkan ketidaksenangan sang politikus terhadap sang anak.
Setahun berikutnya, semua masih tampak baik-baik saja. Namun, kenyataan itu tak lagi sama ketika sebuah acara amal diselenggarakan di rumah mewah milik sang politikus. Berbagai lapisan masyarakat turut menghadiri acara tersebut, tak terkecuali wartawan yang datang untuk meliput.
Tanpa disadari, keberadaan seorang gadis lumpuh di rumah sang politikus cukup menyita perhatian publik. Wartawan mulai mencium fakta bahwa gadis tersebut tak lain adalah putri tunggal dari sang politikus. Karena malu dengan keadaan sang anak, dia pun membantahnya yang menimbulkan luka mendalam bagi sang anak.
“Kau pasti tahu betapa baiknya reputasiku di mata publik. Dan kau pun tahu betapa susahnya aku mendapatkan semua ini. Aku tak ingin keadaanmu mengacaukan segalanya. Jadi, aku minta padamu, jangan katakan pada orang lain bahwa kau adalah anakku. Aku yakin kau pasti mengerti hal ini.” kata sang politikus sedikit kasar.
Sang anak hanya mampu terdiam. Kata-kata itu bagai petir di tengah hari yang dibarengi hujan air mata. Kata-kata yang tak seharusnya di dengar oleh anak seusiannya. Dia hanya mematung, menangis tanpa suara. Sang politikus pun tak sanggup lagi berkata. Mereka tak beranjak dari tempat selama beberapa saat, hingga salah satu dari mereka mendahului pergi dalam keadaan yang masih tetap saling membisu.
Pada lusa setelahnya, sang anak dengan ekspresinya yang nampak sedikit berbeda berjalan gontai menuju sang politikus. Dia memberanikan diri menemuinya untuk mengutarakan sesuatu.
“Tuan, sejak sebelas tahun yang lalu akulah saksi perjuanganmu hingga sekarang aku bisa melihatmu sebagai sosok politikus yang amat disegani. Selama sebelas tahun pula kau membesarkanku dan mengajariku tentang budi pekerti. Aku tahu semua itu tak mudah bagimu setelah kelahiranku yang menjadi sebab kepergian ibu. Aku mengerti akan semua kata-katamu itu. Sebagai salah satu bentuk balas budiku, aku mau penuhi permintaanmu. Aku tak akan mengatakan bahwa aku adalah putrimu.” kata sang anak terbata.
“Tak sia-sia aku mengajarimu selama ini. Baguslah jika kau mengerti.” balas sang politikus. Setiap kali dan berkali-kali hanya senyum palsu yang ia berikan sebagai sebuah penghargaan atas kesediaan sang anak.
“Kini, kau telah saksikan kesungguhanku untuk membalas budimu. Maukah Tuan penuhi satu permintaanku?”
Sempat muncul kekhawatiran di hati sang politikus jika sang anak akan meminta harta yang banyak atau sejenisnya. Namun, akhirnya dia menyetujui karena dirasa tak ada hal lain lagi yang lebih baik.
“Oh, kenapa tidak? katakan saja.”
“Tuan, aku tak akan meminta uangmu. Aku pun tak akan meminta fasilitas mewahmu. Aku hanya ingin kau mengizinkanku menggunduli rambutku.”
Sang politikus terhenyak. Kata-kata yang barusan di dengarnya seperti listrik yang tiba-tiba menyengat dan membuatnya mati tergoda tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan seperti ending dalam sinetron.
“Apa kau sudah tidak waras? Kau wanita. Apakah kau ingin membuatku lebih malu? Bisakah kau sedikit memakai logikamu?” bentak sang politikus.
“Tuan, Kau telah berjanji. Aku yakin politikus sepertimu pasti lebih mengerti bahwa menepati janji merupakan hal yang wajib.”
Sang politikus terdiam. Jika dia menuruti permintaan sang anak, maka dia akan malu karena memiliki anggota keluarga yang berpenampilan tak semestinya. Tapi jika dia tak menurutinya maka martabatnya akan jatuh di depan sang anak karena selama ini dialah yang sering mengajarkan sang anak tentang pentingnya menepati janji. Akhirnya, dengan terpaksa, dia pun menurutinya.
“Baiklah jika itu maumu.”
Dua minggu berjalan baik-baik saja, sebelum para tetangga mulai menggunjing dan menghina keadaan sang anak. Kenyataan ini membuat kemarahan sang politikus semakin memuncak.
“Kau! Apa maumu sebenarnya? Kau mau membuatku malu di depan para tetangga?” bentak sang politikus.
“Tidak, Tuan. Tapi…”
“Ahh. Sudah. Tak perlu banyak alasan. Kau sudah sering merepotkanku. Mulai sekarang tak ku izinkan kau memakai fasilitas kendaraanku.” katanya dengan nada tinggi yang menggelegar dan nyaris memecahkan gendang telinga.
Tanpa berpikir panjang, dia bergegas pergi dengan amarah yang tak kunjung mereda, meninggalkan sang anak yang terdiam mematung.
Tak seperti sebelumnya, sang anak bangun lebih pagi dari biasanya. Diambilnya fasilitas kendaraan membuat sang anak harus berjalan kaki ke sekolah. Setiap hari dia harus mengambil rute melintasi daerah tanah berbatu sejauh 3 km dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya, tempat banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. Kelumpuhan pada kakinya seolah mengesankan bahwa perjalanan itu adalah perjalanan ribuan mil yang amat menyiksa. Sering kali dia merasakan nyeri yang terkadang memaksanya harus berhenti di tengah perjalanan walau tak ada satupun keluhan yang terucap darinya.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, sang anak selalu menyempatkan mampir ke sebuah bangunan putih di ujung jalan. Dengan ekspresinya yang khas, dia berjalan sembari menyeret kaki kirinya yang dibiarkan akrab dengan tanah, beringsut mendekati pilar selatan pintu gerbang di depannya dan mematung. Selang beberapa waktu, seorang bocah berbaju hijau yang khas perlahan membuka ujung pintu gerbang, memberikan sebuah isyarat dan membiarkan sang anak masuk tanpa sedikitpun kata yang terucap.
Bocah itu bergegas melangkah mendahului sang anak dan berhenti tepat di antara sekumpulan anak kecil yang terlihat tak berbeda. Mata mereka saling menyapa, membentuk suatu pertautan interaksi yang tak tergambarkan.
“Seperti janjiku. Hari ini aku datang lagi menemuimu. Aku membawa banyak cerita yang telah ku janjikan padamu. Sekarang kita terlihat tak berbeda. Dan kau harus yakin bahwa kau tak pernah sendiri.” kata sang anak.
Bocah berbaju hijau itu tersenyum. Senyum paling ikhlas yang pernah diberikannya. Wajahnya berseri, manis sekali.
“Aku selalu ingin mendengar ceritamu. Tapi kali ini, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Ayo ikut aku.” kata bocah itu ramah.
Kedua bocah itu berjalan bergandengan memasuki rumah dengan cat serba putih bagaikan dua malaikat yang saling bersahabat. Tibalah mereka di suatu tempat di belakang bangunan serba putih itu. Sebuah taman bunga sederhana yang tampak luar biasa. Beberapa kelinci dan kupu-kupu hidup bebas di sana.
“Ini taman kami. Saat kau meninggalkanku ke sekolah, kami biasa bermain di sini. Kau lihat dua ayunan itu?” kata bocah berbaju hijau.
Sang anak melihat ke arah ayunan di tengah taman. Lalu memalingkan pandangan ke arah bocah berbaju hijau dan menyipitkan mata tanda mengiyakan.
“Di sana kami biasa berdoa. Kami berlatih bercerita agar bisa jadi pencerita yang baik sepertimu. Dan Tuhan sangat baik, Dia selalu mau mendengarkan cerita kami. Sekarang giliranmu bercerita pada Tuhan. Ayo.” kata bocah berbaju hijau sambil mengedipkan mata, menggoda.
Sang anak melangkah perlahan menuju ayunan yang ditunjuk bocah berbaju hijau. Segera ia duduk di sana disusul dengan temannya itu. Dia pejamkan matanya, mengangkat kedua tangan dan mulai bicara.
“Tuhan, hari ini aku hanya mendapat dua potong kue untuk sarapan. Tiba-tiba kucingku mengeong kelaparan. Aku berikan sisa kue terakhirku. Tapi anehnya, aku jadi tidak lapar. Terimakasih untuk kuenya. Kau terlalu baik padaku.” sang anak berhenti bicara untuk beberapa saat dan kembali melanjutkan kalimatnya.
“Hari ini, aku kembali berjalan kaki. Aku tak mengerti, kaki kiriku akhir-akhir ini sering merasa sakit. Tapi, Kau tahu? Bibi di seberang jalan selalu membantuku. Dia amat baik. Biarkan dagangannya laris, Tuhan. Dan kuatkan aku.” lanjutnya sambil meneteskan air mata. “Tadi Ayah juga marah padaku. Tapi jangan marahi dia, Tuhan. Aku yang salah. Akulah yang terlalu menyebalkan. Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Kau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Oh ya, sembuhkan temanku ini untukku. Izinkan aku tetap bisa bercerita padanya. Terimakasih Kau telah mendengarku.”
Sang anak mengakhiri kalimat dan membuka matanya. Ditatapnya wajah sang teman dan tersenyum. Bocah berbaju hijau itupun ikut tersenyum. Dia keluarkan dua buah kertas dan bolpoin yang ada di dalam tasnya dan memberikan salah satunya pada temannya itu.
“Untuk apa ini?” tanya sang anak.
“Besok Hari Ayah. Tidakkah kau ingin tuliskan sesuatu untuknya? Kau bisa menuliskan puisi yang bagus.” saran bocah berbaju hijau itu.
“Aku tak yakin Ayah akan menyukainya.”
“Aku selalu yakin padamu dan kau pun harus yakin padaku. Tulislah!”
Kedua anak itu mulai menulis. Mereka tampak sungguh-sungguh. Dua jam berlalu dan puisinya pun telah terseleseikan. Mereka berdua benar-benar senang. Mereka berlari, bermain dengan kelinci, tertawa, dan bercerita. Suatu kebahagiaan yang tak tergambarkan, seolah dunia ini adalah taman milik mereka berdua.
Esok harinya, orang-orang telah berkumpul di alun-alun kota. Telah menjadi kebiasaan bagi warga kota untuk merayakan hari ayah. Perayaan yang dihadiri Walikota itupun dihadiri pula oleh sang politikus. Mereka duduk bersebelahan. Di tengah-tengah acara, tampak seorang anak berbaju hijau yang akan membacakan puisinya. Kehadiran anak itu cukup mengejutkan. Rambutnya gundul, sama seperti anak sang politikus. Sang politikus berpikir bahwa rambut gundul mungkin trend zaman sekarang.
“Siapa anak yang ada di atas panggung itu, Pak? tanya sang politikus kepada walikota.
“Dia putriku. Sejak setahun lalu, dia divonis terkena leukimia karena itulah semua rambutnya rontok. Anak perempuan di rumah Anda sangat baik. Demi janjinya pada putriku, dia rela menggunduli rambutnya. Dia ingin putriku tak pernah merasa sendiri. Tiap hari dia juga sering menemani putriku di panti penyembuhan, memberinya semangat hidup meski dia juga tahu bahwa kemungkinan itu kecil. Dia mengajari kami bagaimana memaknai hidup dengan bersyukur. Saya salut dengannya.” jelas walikota panjang lebar.
Sang politikus hanya terdiam. Air matanya seolah ingin jatuh. Sebuah rasa bersalah yang teramat dalam seolah menusuk jantungnya dan mengahancurkannya berkeping-keping. Dia salah dalam menilai sang anak. Segera ia bergegas pergi menemui anak walikota.
“Nak, di mana putriku?”
“Tuan, Kau harus tahu, dia sangat menyayangimu. Dia sering menceritakan kebaikanmu padaku. Dia selalu menemaniku. Apakah kau tahu, perjalanan 3 km dengan keadaannya yang lumpuh itu benar-benar menyiksa? Tapi ajaran anda tentang budi lah yang selalu membuatnya bertahan. Dia begitu mengagumi Anda. Sekarang dia sedang mengambilkan bunga untuk Anda di ujung jalan itu sebagai hadiah Hari Ayah. Aku akan mengantarmu ke sana.” jawab anak walikota.
Mereka berdua bergegas pergi ke ujung jalan. Tampak beberapa orang ramai berkumpul di jalan itu.
“Ada apa ini, Tuan?” tanya sang politikus.
“Baru saja seorang anak pincang tertabrak mobil di sini saat akan menyeberang jalan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit.” jawab salah seorang di antara warga.
Seketika tubuh sang politikus lemas. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, hanya berharap anaknya selamat. Anak walikota itu menangis dan mereka berdua bergegas pergi ke rumah sakit.
Di ruang ICU, terbaring seorang anak yang tak asing lagi bagi mereka berdua. Mukanya sangat pucat. Banyak sekali alat mengerikan yang di pasang di tubuhnya. Sesekali tubuhnya tak terlihat karena terhalang oleh banyak dokter yang memeriksa.
:”Tuan, dia tak hanya ingin memberikanmu bunga tapi juga sebuah puisi yang dia tulis sendiri untukmu. Aku mohon padamu, sekali saja izinkan dia membacakan puisi itu untukmu dan memanggilmu Ayah di acara perayaan. Berikan dia kesempatan untuk merasakan kasih seorang Ayah. Kali ini saja.” pinta anak walikota.
Lagi-lagi sang politikus hanya mampu meneteskan air mata tanda penyesalan yang amat dalam. Namun, tak beberapa saat, sang anak tersadar dari komanya. Mukjizat Tuhan membuatnya pulih dalam waktu singkat, hingga ia mampu membacakan puisi buatanya untuk Sang Ayah.
Malam harinya, perayaan Hari Ayah masih berlangsung meriah. Sekaranglah giliran bagi sang anak untuk membacakan puisinya ditemani sahabatnya, anak walikota.
“Aku ingin membacakan sebuah puisi untuk ayahku yang telah membesarkanku sejak kecil. Sejak Ibu meninggal, dia adalah ayah sekaligus ibu bagiku. Puisi ini berjudul “AYAH NOMER SATU DI DUNIA”.
Semua orang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka dibuatnya merinding dengan puisi yang sederhana tapi nampak luar biasa karena sebuah ketulusan di dalamnya. Namun, di akhir pembacaan puisi itu, anak walikota tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang panik terlebih sang walikota.
“Tuhan, beri aku waktu sepuluh menit saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya.” kata sang anak dalam hati.
Anak walikota itu tersadar. Dia tersenyum dan memegang tangan sahabatnya.
“Aku tak pernah pergi karena kau selalu menemaniku. Aku selalu percaya padamu karena itu kau pun harus percaya padaku. Aku akan selalu mengawasimu bersama Tuhan. Terimakasih untuk 3 bulan terindah dan yang akan selalu indah untukku.” kata anak walikota lemah.
“Kau tahu, kau tak pernah sendiri. Aku menyayangimu. Kami semua amat menyayangimu.” jawab anak sang politikus sambil menahan tangis.
Dua bocah gundul itu tersenyum bagai dua malaikat yang saling mengasihi. Teramat indah untuk digambarkan. Dan pada akhirnya, genggaman tangan mereka terlepas. Tak satupun dari pipi orang yang ada di sana kering menyaksikan sebuah kisah persahabatan sejati.


Keahlian dalam bidangnya tak cukup membuatnya menjadi pandai dalam mengungkapkan kasih kepada orang lain. Keadaan itu diawali ketika kematian sang istri yang membuatnya menjelma menjadi seorang pria dewasa yang dingin dan sedikit kasar. Terlebih lagi, Tuhan mengkaruniainya seorang putri tunggal yang harus dirawatnya sendiri semenjak kepergian mendiang istrinya.
Sepuluh tahun terlewati, sang anak tumbuh menjadi gadis pintar, sederhana tapi tampak begitu simpatik. Namun, semua itu tak kunjung membuat sang politikus menaruh suatu kebanggaan layaknya seorang ayah terhadap anaknya. Kehidupan penuh kemewahan dan kehormatan ala pejabat kelas atas negeri ini rupanya telah membutakan hatinya. Kematian sang istri karena melahirkan anaknya dan kelumpuhan permanen pada kaki kiri sang anak yang dianggapnya sebuah aib telah menimbulkan ketidaksenangan sang politikus terhadap sang anak.
Setahun berikutnya, semua masih tampak baik-baik saja. Namun, kenyataan itu tak lagi sama ketika sebuah acara amal diselenggarakan di rumah mewah milik sang politikus. Berbagai lapisan masyarakat turut menghadiri acara tersebut, tak terkecuali wartawan yang datang untuk meliput.
Tanpa disadari, keberadaan seorang gadis lumpuh di rumah sang politikus cukup menyita perhatian publik. Wartawan mulai mencium fakta bahwa gadis tersebut tak lain adalah putri tunggal dari sang politikus. Karena malu dengan keadaan sang anak, dia pun membantahnya yang menimbulkan luka mendalam bagi sang anak.
“Kau pasti tahu betapa baiknya reputasiku di mata publik. Dan kau pun tahu betapa susahnya aku mendapatkan semua ini. Aku tak ingin keadaanmu mengacaukan segalanya. Jadi, aku minta padamu, jangan katakan pada orang lain bahwa kau adalah anakku. Aku yakin kau pasti mengerti hal ini.” kata sang politikus sedikit kasar.
Sang anak hanya mampu terdiam. Kata-kata itu bagai petir di tengah hari yang dibarengi hujan air mata. Kata-kata yang tak seharusnya di dengar oleh anak seusiannya. Dia hanya mematung, menangis tanpa suara. Sang politikus pun tak sanggup lagi berkata. Mereka tak beranjak dari tempat selama beberapa saat, hingga salah satu dari mereka mendahului pergi dalam keadaan yang masih tetap saling membisu.
Pada lusa setelahnya, sang anak dengan ekspresinya yang nampak sedikit berbeda berjalan gontai menuju sang politikus. Dia memberanikan diri menemuinya untuk mengutarakan sesuatu.
“Tuan, sejak sebelas tahun yang lalu akulah saksi perjuanganmu hingga sekarang aku bisa melihatmu sebagai sosok politikus yang amat disegani. Selama sebelas tahun pula kau membesarkanku dan mengajariku tentang budi pekerti. Aku tahu semua itu tak mudah bagimu setelah kelahiranku yang menjadi sebab kepergian ibu. Aku mengerti akan semua kata-katamu itu. Sebagai salah satu bentuk balas budiku, aku mau penuhi permintaanmu. Aku tak akan mengatakan bahwa aku adalah putrimu.” kata sang anak terbata.
“Tak sia-sia aku mengajarimu selama ini. Baguslah jika kau mengerti.” balas sang politikus. Setiap kali dan berkali-kali hanya senyum palsu yang ia berikan sebagai sebuah penghargaan atas kesediaan sang anak.
“Kini, kau telah saksikan kesungguhanku untuk membalas budimu. Maukah Tuan penuhi satu permintaanku?”
Sempat muncul kekhawatiran di hati sang politikus jika sang anak akan meminta harta yang banyak atau sejenisnya. Namun, akhirnya dia menyetujui karena dirasa tak ada hal lain lagi yang lebih baik.
“Oh, kenapa tidak? katakan saja.”
“Tuan, aku tak akan meminta uangmu. Aku pun tak akan meminta fasilitas mewahmu. Aku hanya ingin kau mengizinkanku menggunduli rambutku.”
Sang politikus terhenyak. Kata-kata yang barusan di dengarnya seperti listrik yang tiba-tiba menyengat dan membuatnya mati tergoda tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan seperti ending dalam sinetron.
“Apa kau sudah tidak waras? Kau wanita. Apakah kau ingin membuatku lebih malu? Bisakah kau sedikit memakai logikamu?” bentak sang politikus.
“Tuan, Kau telah berjanji. Aku yakin politikus sepertimu pasti lebih mengerti bahwa menepati janji merupakan hal yang wajib.”
Sang politikus terdiam. Jika dia menuruti permintaan sang anak, maka dia akan malu karena memiliki anggota keluarga yang berpenampilan tak semestinya. Tapi jika dia tak menurutinya maka martabatnya akan jatuh di depan sang anak karena selama ini dialah yang sering mengajarkan sang anak tentang pentingnya menepati janji. Akhirnya, dengan terpaksa, dia pun menurutinya.
“Baiklah jika itu maumu.”
Dua minggu berjalan baik-baik saja, sebelum para tetangga mulai menggunjing dan menghina keadaan sang anak. Kenyataan ini membuat kemarahan sang politikus semakin memuncak.
“Kau! Apa maumu sebenarnya? Kau mau membuatku malu di depan para tetangga?” bentak sang politikus.
“Tidak, Tuan. Tapi…”
“Ahh. Sudah. Tak perlu banyak alasan. Kau sudah sering merepotkanku. Mulai sekarang tak ku izinkan kau memakai fasilitas kendaraanku.” katanya dengan nada tinggi yang menggelegar dan nyaris memecahkan gendang telinga.
Tanpa berpikir panjang, dia bergegas pergi dengan amarah yang tak kunjung mereda, meninggalkan sang anak yang terdiam mematung.
Tak seperti sebelumnya, sang anak bangun lebih pagi dari biasanya. Diambilnya fasilitas kendaraan membuat sang anak harus berjalan kaki ke sekolah. Setiap hari dia harus mengambil rute melintasi daerah tanah berbatu sejauh 3 km dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya, tempat banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. Kelumpuhan pada kakinya seolah mengesankan bahwa perjalanan itu adalah perjalanan ribuan mil yang amat menyiksa. Sering kali dia merasakan nyeri yang terkadang memaksanya harus berhenti di tengah perjalanan walau tak ada satupun keluhan yang terucap darinya.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, sang anak selalu menyempatkan mampir ke sebuah bangunan putih di ujung jalan. Dengan ekspresinya yang khas, dia berjalan sembari menyeret kaki kirinya yang dibiarkan akrab dengan tanah, beringsut mendekati pilar selatan pintu gerbang di depannya dan mematung. Selang beberapa waktu, seorang bocah berbaju hijau yang khas perlahan membuka ujung pintu gerbang, memberikan sebuah isyarat dan membiarkan sang anak masuk tanpa sedikitpun kata yang terucap.
Bocah itu bergegas melangkah mendahului sang anak dan berhenti tepat di antara sekumpulan anak kecil yang terlihat tak berbeda. Mata mereka saling menyapa, membentuk suatu pertautan interaksi yang tak tergambarkan.
“Seperti janjiku. Hari ini aku datang lagi menemuimu. Aku membawa banyak cerita yang telah ku janjikan padamu. Sekarang kita terlihat tak berbeda. Dan kau harus yakin bahwa kau tak pernah sendiri.” kata sang anak.
Bocah berbaju hijau itu tersenyum. Senyum paling ikhlas yang pernah diberikannya. Wajahnya berseri, manis sekali.
“Aku selalu ingin mendengar ceritamu. Tapi kali ini, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Ayo ikut aku.” kata bocah itu ramah.
Kedua bocah itu berjalan bergandengan memasuki rumah dengan cat serba putih bagaikan dua malaikat yang saling bersahabat. Tibalah mereka di suatu tempat di belakang bangunan serba putih itu. Sebuah taman bunga sederhana yang tampak luar biasa. Beberapa kelinci dan kupu-kupu hidup bebas di sana.
“Ini taman kami. Saat kau meninggalkanku ke sekolah, kami biasa bermain di sini. Kau lihat dua ayunan itu?” kata bocah berbaju hijau.
Sang anak melihat ke arah ayunan di tengah taman. Lalu memalingkan pandangan ke arah bocah berbaju hijau dan menyipitkan mata tanda mengiyakan.
“Di sana kami biasa berdoa. Kami berlatih bercerita agar bisa jadi pencerita yang baik sepertimu. Dan Tuhan sangat baik, Dia selalu mau mendengarkan cerita kami. Sekarang giliranmu bercerita pada Tuhan. Ayo.” kata bocah berbaju hijau sambil mengedipkan mata, menggoda.
Sang anak melangkah perlahan menuju ayunan yang ditunjuk bocah berbaju hijau. Segera ia duduk di sana disusul dengan temannya itu. Dia pejamkan matanya, mengangkat kedua tangan dan mulai bicara.
“Tuhan, hari ini aku hanya mendapat dua potong kue untuk sarapan. Tiba-tiba kucingku mengeong kelaparan. Aku berikan sisa kue terakhirku. Tapi anehnya, aku jadi tidak lapar. Terimakasih untuk kuenya. Kau terlalu baik padaku.” sang anak berhenti bicara untuk beberapa saat dan kembali melanjutkan kalimatnya.
“Hari ini, aku kembali berjalan kaki. Aku tak mengerti, kaki kiriku akhir-akhir ini sering merasa sakit. Tapi, Kau tahu? Bibi di seberang jalan selalu membantuku. Dia amat baik. Biarkan dagangannya laris, Tuhan. Dan kuatkan aku.” lanjutnya sambil meneteskan air mata. “Tadi Ayah juga marah padaku. Tapi jangan marahi dia, Tuhan. Aku yang salah. Akulah yang terlalu menyebalkan. Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Kau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Oh ya, sembuhkan temanku ini untukku. Izinkan aku tetap bisa bercerita padanya. Terimakasih Kau telah mendengarku.”
Sang anak mengakhiri kalimat dan membuka matanya. Ditatapnya wajah sang teman dan tersenyum. Bocah berbaju hijau itupun ikut tersenyum. Dia keluarkan dua buah kertas dan bolpoin yang ada di dalam tasnya dan memberikan salah satunya pada temannya itu.
“Untuk apa ini?” tanya sang anak.
“Besok Hari Ayah. Tidakkah kau ingin tuliskan sesuatu untuknya? Kau bisa menuliskan puisi yang bagus.” saran bocah berbaju hijau itu.
“Aku tak yakin Ayah akan menyukainya.”
“Aku selalu yakin padamu dan kau pun harus yakin padaku. Tulislah!”
Kedua anak itu mulai menulis. Mereka tampak sungguh-sungguh. Dua jam berlalu dan puisinya pun telah terseleseikan. Mereka berdua benar-benar senang. Mereka berlari, bermain dengan kelinci, tertawa, dan bercerita. Suatu kebahagiaan yang tak tergambarkan, seolah dunia ini adalah taman milik mereka berdua.
Esok harinya, orang-orang telah berkumpul di alun-alun kota. Telah menjadi kebiasaan bagi warga kota untuk merayakan hari ayah. Perayaan yang dihadiri Walikota itupun dihadiri pula oleh sang politikus. Mereka duduk bersebelahan. Di tengah-tengah acara, tampak seorang anak berbaju hijau yang akan membacakan puisinya. Kehadiran anak itu cukup mengejutkan. Rambutnya gundul, sama seperti anak sang politikus. Sang politikus berpikir bahwa rambut gundul mungkin trend zaman sekarang.
“Siapa anak yang ada di atas panggung itu, Pak? tanya sang politikus kepada walikota.
“Dia putriku. Sejak setahun lalu, dia divonis terkena leukimia karena itulah semua rambutnya rontok. Anak perempuan di rumah Anda sangat baik. Demi janjinya pada putriku, dia rela menggunduli rambutnya. Dia ingin putriku tak pernah merasa sendiri. Tiap hari dia juga sering menemani putriku di panti penyembuhan, memberinya semangat hidup meski dia juga tahu bahwa kemungkinan itu kecil. Dia mengajari kami bagaimana memaknai hidup dengan bersyukur. Saya salut dengannya.” jelas walikota panjang lebar.
Sang politikus hanya terdiam. Air matanya seolah ingin jatuh. Sebuah rasa bersalah yang teramat dalam seolah menusuk jantungnya dan mengahancurkannya berkeping-keping. Dia salah dalam menilai sang anak. Segera ia bergegas pergi menemui anak walikota.
“Nak, di mana putriku?”
“Tuan, Kau harus tahu, dia sangat menyayangimu. Dia sering menceritakan kebaikanmu padaku. Dia selalu menemaniku. Apakah kau tahu, perjalanan 3 km dengan keadaannya yang lumpuh itu benar-benar menyiksa? Tapi ajaran anda tentang budi lah yang selalu membuatnya bertahan. Dia begitu mengagumi Anda. Sekarang dia sedang mengambilkan bunga untuk Anda di ujung jalan itu sebagai hadiah Hari Ayah. Aku akan mengantarmu ke sana.” jawab anak walikota.
Mereka berdua bergegas pergi ke ujung jalan. Tampak beberapa orang ramai berkumpul di jalan itu.
“Ada apa ini, Tuan?” tanya sang politikus.
“Baru saja seorang anak pincang tertabrak mobil di sini saat akan menyeberang jalan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit.” jawab salah seorang di antara warga.
Seketika tubuh sang politikus lemas. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, hanya berharap anaknya selamat. Anak walikota itu menangis dan mereka berdua bergegas pergi ke rumah sakit.
Di ruang ICU, terbaring seorang anak yang tak asing lagi bagi mereka berdua. Mukanya sangat pucat. Banyak sekali alat mengerikan yang di pasang di tubuhnya. Sesekali tubuhnya tak terlihat karena terhalang oleh banyak dokter yang memeriksa.
:”Tuan, dia tak hanya ingin memberikanmu bunga tapi juga sebuah puisi yang dia tulis sendiri untukmu. Aku mohon padamu, sekali saja izinkan dia membacakan puisi itu untukmu dan memanggilmu Ayah di acara perayaan. Berikan dia kesempatan untuk merasakan kasih seorang Ayah. Kali ini saja.” pinta anak walikota.
Lagi-lagi sang politikus hanya mampu meneteskan air mata tanda penyesalan yang amat dalam. Namun, tak beberapa saat, sang anak tersadar dari komanya. Mukjizat Tuhan membuatnya pulih dalam waktu singkat, hingga ia mampu membacakan puisi buatanya untuk Sang Ayah.
Malam harinya, perayaan Hari Ayah masih berlangsung meriah. Sekaranglah giliran bagi sang anak untuk membacakan puisinya ditemani sahabatnya, anak walikota.
“Aku ingin membacakan sebuah puisi untuk ayahku yang telah membesarkanku sejak kecil. Sejak Ibu meninggal, dia adalah ayah sekaligus ibu bagiku. Puisi ini berjudul “AYAH NOMER SATU DI DUNIA”.
Semua orang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka dibuatnya merinding dengan puisi yang sederhana tapi nampak luar biasa karena sebuah ketulusan di dalamnya. Namun, di akhir pembacaan puisi itu, anak walikota tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang panik terlebih sang walikota.
“Tuhan, beri aku waktu sepuluh menit saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya.” kata sang anak dalam hati.
Anak walikota itu tersadar. Dia tersenyum dan memegang tangan sahabatnya.
“Aku tak pernah pergi karena kau selalu menemaniku. Aku selalu percaya padamu karena itu kau pun harus percaya padaku. Aku akan selalu mengawasimu bersama Tuhan. Terimakasih untuk 3 bulan terindah dan yang akan selalu indah untukku.” kata anak walikota lemah.
“Kau tahu, kau tak pernah sendiri. Aku menyayangimu. Kami semua amat menyayangimu.” jawab anak sang politikus sambil menahan tangis.
Dua bocah gundul itu tersenyum bagai dua malaikat yang saling mengasihi. Teramat indah untuk digambarkan. Dan pada akhirnya, genggaman tangan mereka terlepas. Tak satupun dari pipi orang yang ada di sana kering menyaksikan sebuah kisah persahabatan sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar